Rabu, 07 Maret 2012

Minggu Berkabut, Cerita dari Plawangan

Hmm, bingung. Akan kumulai dari mana cerita ini, banyak yg ingin dibagi dan diceritakan. Perjalanan kami berlima dg tema Pengamatan Burung Paska Erupsi Merapi. Kebetulan kami mendapat daerah Tlogo Putri-Plawangan.
Begini saja, semua akan kutulis, meski loncat loncat ceritanya dan nggak nggenah dlm struktur serta gaya bahasanya, "pokoke!!" nulis. Hehehe.
Note :
* teruntuk yg namanya ada dlm tulisan ini,saya tidak akan membayar royalti =))
* saya orangnya nggumunan, jd harap maklum..

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

" woey, udah dtunggu.. d parkir mipa -pengirim Pbio Shoim 06:50-," tertulis sms dari layar hp. waduh, itu tandanya harus bersegera menuju tkp. Okelah kalo begitu. Mengawali hari dg mBantul yg dingin akibat guyuran hujan semalaman, agak "memeng" juga sebenarnya, tapi semua terpatahkan oleh :"Apa sih yg nggak buat Bionic??" (nggombal sithik).

Capcuss, go to campus!! Kondisi jalan yg sepi memungkinkan untuk ngebut sepanjang jalan itu. Lalu ke kos Sih, nitip motor selanjutnya menuju parkiran mipa yang ternyata sudah ditunggu beberapa teman. Tak perlu menunggu lama-lama, akhirnya beberapa rombongan menuju tkp yang dimaksud. (Tlogo Putri-Plawangan : Shoim, dkk; Turgo : Mas Helmi, Arif, dkk; Goa Jepang : Mas Ipin, dkk).

Aku ikut rombongan Tlogo Putri-Plawangan, ternyata hanya 4 orang -shoim, jarot '10, sih, aku- + 1 nyusul -zul diki-. Sampai d Tlogo Putri sekitar jam 8.00, ternyata masih menunggu salah satu rekan. So, akhirnya kami duduk duduk d salah satu warung untuk menikmati jadah tempe khas Kaliurang sambil mendengarkan guyonan santai para Chinese yang sesekali memberi pesan untuk berhati hati dalam pengamatan dan "sesuatu" (hahaha) . Saat itu pula dijumpai beberapa kacamata bisaa sedang bertengger.
Yupz, jam 8.45 ternyata yang ditunggu tidak kunjung datang, lalu diputuskan untuk naik saja. Akhirnya, kita menuju pintu masuk Plawangan. Taraaaa!!! Di pintu masuk, Shaim sempat berbincang dengan penjaga mengenai perjalanan yang akan dilakukan. Dan, kami pun diperbolehkan menuju daerah Plawangan yang diisolir dari pengunjung pada umumnya.
Naik naik ke hutan, “Heh!!,” Shaim yg ada di paling depan rombongan berteriak. Ternyata eh ternyata, ada Macaca yang guedeee berjalan dengan santainya melalui kami, disangkanya jalan itu catwalk mungkin.

Selanjutnya, kami berhenti di sebuah Gazebo yang tak berbentuk lagi, kali ini dimulailah pengamatan yang “serius” ( emangnya dari tadi nggak serius?? =) ). Aihh,, ada srigunting hitam!! Ooo itu to?? Manggut manggut, walopun paling bontot ngliat si doi tersebut (gakpapa lah, namanya juga belajar –menghibur diri sendiri-). Tak hanya burung yang bersliweran di sana, bahkan nyemot alias monyet juga mendekati kami, seolah-olah mengucapkan selamat datang untuk kami ( Hahaha,, GR!!). Ada monyet yg nggendong anaknya, bapak monyet, dan anak monyet yang “sepertinya” mbarep ( Sok tau sekali saya, =)) ).

Next, nongkrong di bukit dengan pemandangan lepas dan tiba-tiba Srindit Jawa ada tepat d Pinus merkusii kira-kira 5 sampai 6 meter depan kami. Wow, indah!! Walopun lagi-lagi paling akhir bisa mendapatnya. CkCkCk.. Di tempat itu pula, kami mendapat Gelatik Batu Kelabu.
Selama perjalanan ada pula ditemukan Cabai Jawa, Cucak Gunung, Elang Hitam, Elang Ular Bido, Empuloh janggut, Srigunting Kelabu, wergan Jawa, walik Kepala Ungu, Munguk Bledu, dan Jinjing Batu.
Paling lama, saat mengamati betet Bisaa dan walik Kepala Ungu, keduanya diambil gambar memakai kamera digital. Sadar si doi difoto, sepertinya mereka sengaja untuk bertengger lama. Ah elok nian.

Selain kesemuanya, jalan yang mendaki dan menurun menjadikan perjalanan ini semakin menantang. Apalagi daerah yang kami sambangi terisolir paska erupsi, dan tidak sembarang orang bisa melewatinya. Maklum, jalannya tertutup pohon tumbang, dan beberapa bekas abu masih nampak. Hmm, berjalan merunduk, menggenggam erat dahan yang lapuk lalu jatuh, memegang duri untuk pegangan, terantuk batu, dan semuanya justru menjadikan perjalanan kami menjadi penuh warna (lebay ah).  Kabut tebal dan hujan sesekali juga mengikuti gerak langkah lima petualang.
Perjalanan terakhir yang terekam mungkin saat pencarian jalan pulang, haduhh.. turun ke aliran sungai berbatu, untung saja tak ada air di sana, dan naik melewati tempat pembuangan sampah. Aihh…

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Cerita yang loncat-loncat menurutku, ah entahlah. Yang penting tugas menulisku usai, hehe ^^V. Besok diajak lagi yaa
Salam Lestari Salam Konservasi ^__^

Burung itu terbang. Melampau luasnya langit. Untaikan asa.
Maha Suci Engkau yang tak pernah mencipta dg sia-sia, pun waktu begitupula kesempatan yang Ia beri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar